By Socrates – Krisis ekonomi yang melanda Negara-negara di Asia Tenggara 1998 menjalar dari Thailand. Namun dengan kegigihannya menjual pariwisatanya, Negara seribu pura itu berhasil lolos dari krisis yang berkepanjangan. Bagaimana sektor pariwisata Negara Gajah Putih itu dikelola?.
Sawadikhab merupakan kata dan salam hormat orang Thailand terhadap orang lain sambil menyatukan dua telapak tangan di dada. Dengan program Amazing Of Thailand, turis dari berbagai Negara mengalir tiada henti kesana. Selain tertarik dengan keindahan alamnya, para pelancong merasa penasaran dengan program wisata yang ditawarkan.
Perlukah Thailand mempromosikan diri? Kadang-kadang pro-mosi dari mulut ke mulut jauh lebih ampuh dan hemat biaya. “Saya tertarik ke Thailand setelah mendengar cerita anak saya yang pernah kesini,” kata Hadi Santoso yang berasal dari Jakarta, namun Thailand tetap saja gencar berpromosi ke berbagai penjuru dunia.
Maka, tidak heran saban hari ribuan turis mengalir ke Thailand. Operator penerbangan seperti The Airlines dari Singapura ke Bangkok dan Royal Nepal Airlines pesawat yang transit di bandara Don Muang sebelum ke Khatmandu, kerap dipenuhi oleh turis yang menyandang tas besar.

Hamparan gedung pencakar langit di kota Bangkok tampak gemerlap saat pesawat mendarat. Luas kota ini kira-kira tiga kali luas Singapura. Begitu men-jejakkan kaki dikota seribu pagoda itu, pemandu wisata sudah menanti. Dengan sikap ramah, ia menyambut pelancong.
Meski bahasa menjadi kendala antaran tak semua bisa ber-bahasa Thai-land dan Mandarin, Negara gajah putih ini tetap mempesona. Celakanya, pemandu wisata tak bisa berbahasa Inggris. Akibatnya, yang tak bisa bahasa Mandarin bengong saja. Malah, dihotel sebaliknya, tak bisa ngomong Mandarin dan bisa berbahasa Inggris.
Namun itu tak jadi masalah, sebab hari hotel-hotel di Bangkok penuh. Ka-lau mau dapat hotel bagus, mesti boking jauh-jauh hari, kata Chai, pemandu wisata berbadan gemuk itu sambil terus menyampaikan berbagai informasi melalui mikrofon di atas bis. Orang Thailand pun tak malu-malu bicara tentang wanita di negaranya. “Wanita memang lebih banyak di Thailand, memang banyak siau ping ping (wanita cantik-red), “katanya, sambil tersenyum penuh arti.
Bangkok memang kota populer. Meski tak sesibuk Jakarta, namun kota ini bersih dan rapi. Dari mulut ke mulut beredar cerita bahwa di kota ini banyak hantu dan setan. Makhluk halus, gaib itu konon bersarang di gedung-gedung tua dan kolong jembatan.
“Di Bangkok dipercaya banyak tuyul dan setan yang genta-yangan. Banyak yang mencoba yang mencoba menangkap setan dan memenuhi semua keinginannya, lalu bisa minta kaya, “cerita Chai, pemandu wisata itu dengan mimik serius.
Meski sebuah kota modern, sebagian warga kota Bangkok per-caya de-ngan dunia gaib itu. Kalau ada benda yang dianggap kera-mat, mereka pergi berdoa ke tempat angker tersebut. Malah, ada seorang cenayang yang mampu membaca garis nasib seseorang ramai dikunjungi. Pengunjung antri dari pagi sampai sore, “ kata Chang.
Meski jalannya tak terlalu lebar, kota Bangkok rapi dan bersih. Hanya saja, kalau tak bisa berbahasa Thailand timbul kesulitan saat berkomunikasi. Tanya supermarket bisa-bisa kesasar ke stasiun kereta api. Taksi yang berseliweran di jalan-jalan kota ada dua macam. Yang pertama taksi meter yang pakai argo serta taksi yang mirip-mirip bajai atau yang lebih dikenal dengan tuk-tuk. Kendaraan umum roda tiga ini malah menjadi ciri khas Bangkok.
Para pelancong dibawa menyusuri Sungai Bangkok Kecil. Konon, sungai itu dulu didatangi bangsa Tiongkok dan Kanton dan menjadi perkampungan asli kota Bangkok. Wisatawan dibawa mengunjungi sebuah vihara di pinggir sungai yang unik.
Meski sungai itu cukup panjang, namun ada ribuan ikan yang tidak mau beranjak dari depan vihara itu, ikan yang cukup besar itu dinamakan ikan dewa dan kabarnya ikan perliharaan pengelola vihara. “Tak ada yang berani menganggu ikan dewa,” ujar Chai. Ikan dewa senang makan roti yang dibeli di atas pera-hu. Ikan-ikan itu akan berloncatan menyambar roti diatas permukaan sungai dan menjadi tontonan menarik bagi wisatawan. Anda tentu merasa bangga kalau di-kalungi rangkaian bunga melati dan anggrek. Tapi ternyata, kalungan bunga itu mesti dibeli 20 bath.
Saat perahu yang mirip jung itu melambat, pedagang terapung langsung mendekat dengan membawa berbagai bentuk cendera mata seperti kaos, makanan dan berbagai kerajinan tangan. Tampak sekali orang Thailand sangat pintar memanfaatkan kedatangan para wisatawan dari berbagai penjuru dunia.
Di pagoda terkenal terkenal seperti Wan Arun, seain keindahan tempat ibadah itu, juga disediakan bebagai macam cindera mata. Tidak itu saja, ada orang yang menawarkan berfoto dengan ular phyton, gadis-gadis berpakaian tra-disional Thai dan sebagainya. Tapi semuanya harus merogoh kocek 20 bath
Orang Thailand pandai benar memanfaatkan para wisatawan dan mereka pintar menacari duit. Tak terasa, uang keluar dari kantong, “kata Sumanto dan isterinya yang berbulan madu ke Thailand. Tapi, tak pernah ada paksaan. ***
