By Socrates – Singapura merupakan negara tetangga terdekat dari Batam, Bintan dan Karimun. Sejak lama, masyarakatnya saling mengunjungi untuk berbagai keper-luan, terutama di akhir pekan. Malah, warga dari kota-kota lain, sering transit di Batam sebelum menyeberang ke Singapura karena biaya fiskal lebih murah.
Namun, tidak semua warga Batam dan Kepulauan Riau, tahu seluk beluk Singapura. Misalnya, tentang berbagai event, tempat belanja murah, cara be-rurusan dengan pihak berwenang hingga agenda dan tempat wisata di Singa-pura. Paling tidak, mengetahui Singapura bisa merubah mindset warga Batam dan Kepulauan Ri-au sebagai tetangganya.
Nama Singapura dalam catatan bangsa China, awalnya disebut sebagai Pu lou chung, atau pulau di ujung semenanjung. Pada abad ke 14, pulau kecil namun strategis ini mendapat nama baru Singa Pura (Kota Singa). Menurut le-genda, seorang pangeran Sriwijaya yang datang melihat seekor hewan yang ia kira singa, dan lahirlah nama modern Singapura ini (Singapore dalam bahasa Inggris). Kisah Singapura diwarnai oleh Inggris yang menjadikan Singa-pura se-bagai ‘’rumah singgah’’ pada abad ke 18 Masehi.
Sir Stamford Raffles mendirikan Singapura atau Singapore, sebagai tempat perdagangan tahun 1819. Kebijakan perdagangan bebas berhasil menarik para pedagang dari seluruh penjuru Asia, bahkan dari negeri-negeri jauh seperti Ame-rika Serikat dan Timur Tengah. Di tahun 1832, Singapura menjadi pusat pemerintahan Straits Settlements (Wilayah Pemukiman Teluk) untuk daerah Penang, Malaka dan Singapura.
Singapura menjadi republik merdeka tanggal 9 Agustus 1965. Singapura berbatasan dengan Johor, Malaysia dan Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Lu-as Singapura 692.7 km persegi dengan penduduk 4.16 juta jiwa yang terdiri dari 76.8 % Cina, Melayu 13.9 %, India 7,9% dan lain-lain 1.4%. Meskipun perkawi-nan silang telah terjadi selama bertahun-tahun, masing-masing kelompok ras di dalam Singapura tetap mempertahankan identitas budayanya sendiri, sembari berkembang sebagai bagian integral dari masyarakat Singapura.
Singapura memiliki sebuah pulau utama dengan 63 pulau kecil di sekelili-ngnya. Sama seperti Batam, kebanyakan, pulau-pulau kecil itu tidak berpenghuni. Pulau utamanya memiliki total daratan seluas 682 kilometer persegi. Singapura merupakan pelabuhan tersibuk di dunia, dengan lebih dari 600 jalur pela-yaran mengirimkan super tanker, kapal-kapal kontainer dan kapal-kapal penumpang untuk saling berbagi perairan dengan kapal-kapal nelayan dan sampan kayu. Selain sebagai salah satu pusat penyulingan dan distribusi minyak utama dunia, Singapura juga merupakan pemasok utama komponen elektronik dan pemimpin dalam bidang pem-buatan dan reparasi kapal.
Negeri Singa ini juga menjadi salah satu pusat keuangan terpenting Asia, dengan lebih dari 130 bank yang tersedia. Berbagai urusan bisnis difasilitasi oleh jaringan komunikasi Singapura yang canggih, menghubungkan negara ini ke se-luruh dunia melalui sistem sistem telepon dan telegraf satelit 24 jam.
Lokasi Singapura yang strategis, fasilitasnya yang istimewa, kontras buda-yanya yang mempesona, serta atraksi wisatanya, semua berkontribusi terhadap kesuksesannya menjadi daerah tujuan unggulan baik untuk bisnis maupun wi-sata.

Tagline Uniqly Singapore dijadikan sebagai city branding Singapura. Kota dengan lambang Merlion ini telah menjadi pusat pertemuan Timur dan Barat, tempat bercampurnya berbagai bangsa dengan aneka budaya dan pandangan hidup. Berbagai ragam seni, baik klasik maupun modern, warisan budaya fisik (bang-unan) maupun nilai-nilai kehidupan, hingga kecanggihan teknologi berkumpul menjadi satu.
Dengan menggunakan pendekatan marketing yang cerdas Singapura menjual pariwisata melalui branding campaign bertema Uniquely Singapore. Ne-gara kota ini juga berupaya keras mendatangkan orang-orang terbaik (pebisnis, profesor, peneliti, seniman, dan sebagainya) tinggal di Singapura dengan program Contact Singapore. Negara ini juga mendorong perusahaan-perusahaan-nya untuk go international dengan beragam program yang dirancang oleh badan pemerintah IE (International Enterprise). Dan masih banyak lagi.
Singapura memang beda. Ini ditegaskan menteri senior Singapura Lee Ku-an Yew, saat bicara pada Global Forum Brand. ‘’Singapore is different,’’ kata Lee. Tiga kata itu sepertinya sangat sederhana, tapi bagi Lee memiliki makna sa-ngat besar dan diakuinya menjadi kunci kesuksesan Singapura. Ia melanjutkan, sejak 1965 Singapura terus berjuang di tengah kelangkaan resources untuk selalu be different dibanding dengan negara berkembang lain.
Sejak Bali dibom terorisSingapura makin mendapat tempat di hati wisata-wan. Menurut buku World Competiveness Yearbook (WCY) Singapura menempati peringkat ketiga dalam “protection of personal security and private property” (perlindungan untuk keamanan dan properti pribadi), peringkat pertama dalam “social cohesion as a priority for the government” (kerukunan/kekompakan ma-syarakat menjadi prioritas bagi pemerintah).
Singapura juga dinilai, sebagai negara di Asia yang kondisi politiknya paling stabil (most politically stable Asian co-untry). Singapura adalah tempat yang sangat cocok bagi semua orang untuk berbisnis, kehidupan berkeluarga, belajar, dan menikmati hidup. Dengan segala keterbatasannya, negara ini mampu mengoptimalkan apa yang dimilikinya menjadi suatu produk yang menarik. Tak lepas pula dari keter-paduan pemerintah dan pihak industri pariwisata Singapura dalam membuat pa-ket dan mempromosikan produk wisata negaranya yang patut diacungi jempol.
Padahal, 40 tahun lalu negara ini hanyalah negara miskin dan sangat ke-kurangan dari segi infrastrukturnya. Tahun 1965, ada dua masalah besar yang dihadapi Singapura yang baru saja merdeka kala itu yaitu pengangguran dan ku-rangnya perumahan. Kini, Singapura adalah sebuah kota yang sudah berkem-bang pesat dan pusat aktivitas bisnis internasional dengan standar hidup yang tinggi serta lingkungan yang bersih dan hijau.
Live it up in Singapore! Itulah slogan Singapura sekarang yang mengek-sistensikan dirinya sebagai New Asia. Di siru terjadi pertemuan kehidupan Timur dan Barat, warisan budaya Asia bergabung dengan kehidupan modern.
Bagi penggemar jalan-jalan, Singapura wajib masuk menjadi salah satu kota tujuan. Bahkan, jika Anda termasuk turis bersaku pas-pasan, tak ada alasan tak bisa menikmati Singapura. Anda bisa memilih tinggal di kawasan Little India, Bugis Village, atau kamar di bawah Sing $ 100 untuk tiga orang. Kemana pun Anda hendak pergi, cukup gunakan kereta api bawah tanah (MRT) atau bis kota yang nyaman.
Banyak sekali tempat di Singapura yang patut dinikmati. Di kawasan Chi-natown, ada kuil Hokian tertua, Sri Mariamman. Penggemar makanan bisa mampir ke Food Street untuk mencicipi makanan di udara terbuka, atau kudapan Cina buatan rumah. Bagi penggemar pertunjukan, datangi teater Esplanade yang terletak di Marina Bay, menonton teater kontemporer baik dari Asia mau-pun Barat, pementasan opera, pertunjukkan musikal, tari, hingga konser.
Singapura pintar merogoh kocek wisatawan yang hobi belanja. Festival belanja yang dikemas dengan menarik, dijadikan musim panen bagi para pe-dagang, sekaligus memakmurkan ekonomi ne-gara kota itu. Selama musim be-lanja, kota pun tak pernah mati.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia, khususnya Batam? Sejak bertahun-tahun, Batam Big Sale hanya jadi wacana. Dan baru te-ringat lagi ketika kunju-ngan turis makin merosot. Malah, Singapura menjadikan Indonesia sebagai tar-get pasar yang potensial. Paling tidak, sebanyak 350.000 wisatawan Indonesia dirayu untuk mem-belanjakan uang di kawasan Orchard Road, Geylang Serai, Arab Street, Marina Bay dan Little India.
Singapore Tourist Board (STB) menggarap serius pasar Indonesia. Pro-mosi gencar dilakukan. Mereka melakukan kemitraan dengan biro perjalanan lokal. Kemitraan itu disebar pada sembilan kota besar: Jakarta, Surabaya, Semarang, Manado, Medan, Padang, Palembang, Pekanbaru dan Balikpapan. STB juga mengadakan road show ke sejumlah kota besar di Indonesia. Promo yang gencar itu dibarengi dengan pariwara di media cetak dan elektronik.
Singapura juga kreatif. Bagi wisatawan yang capek keliling dari mal ke mal, bisa belanja online di internet yang disediakan hotel. Tinggal klik dan meng-akses produk secara lengkap seperti kamera digital, souvenir, produk kecantikan dan kesehatan. Ketegasan Singapura, juga patut ditiru. Mereka mengumumkan secara terbuka daftar toko-toko yang bermasalah yang pernah merugikan konsumennya. Meski ada sejumlah kecil toko yang mencoreng citranya, Singapore Tourism Board (STB) sangat menganggap serius semua prilaku salah toko-toko atau tempat usaha tersebut. Toko yang menjadi keluhan konsumen, malu sen-diri dan sepi dari pembeli.
Wisatawan juga diperingatkan jika didekati pedagang dengan iming-iming hadiah gratis atau diskon khusus. Mereka yang merasa dirugikan, bisa menghu-bungi STB melalui telepon bebas pulsa me-minta ganti rugi atau mengadu ke Small Claims Tribunals (SCT) secara langsung. Maka, tak heran Singapura ma-kin makmur saja.
Bagaimana upaya Singapura mengundang turis? “Kami harus menciptakan produk-produk wisata baru yang lebih menarik untuk mem-perkaya pengalaman para wisatawan,” kata Direktur Utama STB Lim Neo Chian. Singapura juga mengizinkan pembangunan dua kasino di Pulau Sentosa dan Marina, yang tendernya dimenangkan perusahaan yang membangun pusat perjudian dunia Las Vegas. “Kami akan terus membangun Singapura untuk menjadi tempat yang harus dikunjungi,” kata Lim.
Singapura terkenal sebagai kota surga belanja. Secara konsisten setiap tahun diadakan pesta belanja tahunan, bertabur hadiah dan diskon. Mereka be-gitu pintar menata bagaimana turis dari berbagai belahan dunia, menghabiskan uangnya berbelanja di Singapura.
Saat liburan sekolah, adalah saat-saat yang dinanti oleh mereka yang pu-nya hobi belanja. Kata-kata obral, menjadi magnet dan memberi getaran kepada mereka yang suka belanja. Setiap bulan Juni, Singapura berubah menjadi pusaran aktivitas saat obral besar di seluruh pulau menawarkan potongan harga yang luar biasa sampai 70 persen. Acara seru seperti Great Singapore Shopping Challenge, selalu ditunggu-tunggu.
Sedikitnya, ada enam alasan hingga Singapura layak disebut “surga belanja”, yakni kualitas dan harga barang yang terjangkau, layanan purnajual yang baik, jaminan keaslian barang, dan keamanan serta kenyamanan lingkungan be-lanja yang didukung dengan sistem transportasi yang baik. Untuk memanjakan konsumen, Pajak Barang dan Jasa (Good and Ser-vice Tax) atau GST bisa diminta kembali ketika Anda terbang meninggalkan Singapura. Pajak GST merupakan program Global Refund yang dijalakan Sing-apura sebesar 5 persen, jika masuk melalui bandar udara.
Syarat untuk memperoleh Global Refund ini antara lain, Anda bukan war-ga Negara atau penduduk permanen Singapura, atau ti-dak pernah bekerja di Singapura selama 6 bulan terakhir atau, ti-dak pernah tinggal lebih dari 365 hari di Singapura selama 2 tahun terakhir. Minimal, Anda memenuhi syarat jika Anda telah membelanjakan lebih dari SGD 100 selama Anda tinggal di Singapura. Juga, memenuhi syarat jika Anda membawa barang tersebut keluar dari Singapu-ra melalui Singapore Airport dalam waktu 60 hari dari tanggal pembelian.
Singapura sejak lama sangat perduli dengan lingkungannya. Mungkin ba-nyak yang heran saat mendengar bahwa negeri pu-lau kecil Singapura adalah salah satu dari hanya dua kota di du-nia yang mempunyai hutan tropis utama dengan luas yang signifikan dalam perbatasannya. Kota lainnya adalah Rio de Janeiro, Brasil.
Bunga-bunga yang tertata rapi, pepohonan rindang yang memberi suasa-na sejuk bagi pejalan kaki, merupakan pemandangan alami di Singapura. Meski di tengah urbanisasi, sebutan Garden City (Kota Taman) bagi Singapura tidaklah sekedar slogan.
Satu taman yang sangat dibanggakan Singapura adalah Botanic Gardens dengan tamannya yang rimbun, kolam-kolam yang penuh digenangi bunga lily, serta anggrek yang cerah memikat. Singapore Botanic Gardens melambangkan semua taman-taman mewah di pulau tropis ini. Terhampar lebih dari 52 hektar dan dekat dengan pusat kota, taman ini menampilkan banyak koleksi tanaman khusus. Beberapa yang istimewa antara lain National Orchid Garden, Ginger Garden, serta Evolution Garden.
Kecil tapi gesit. Mungkin itu kata-kata yang pas menggambarkan Singa-pura. Meksi termasuk di antara 20 negara terkecil di dunia, Singapura mampu memanfaatkan wilayahnya semaksimal mungkin untuk meningkatkankan devi-sanya melalui sektor pariwisata. Wisatawan ditawarkan paket-paket wisata ke pulau-pulau yang ditata apik dan dilengkapi dengan berbagai kisah yang diramu untuk membuat penasaran para turis dari legenda yang ada di pulau itu.
Pulau Sentosa merupakan salah satu tujuan wisata yang dibang-gakan Singapura. Pulau seluas 390 hektar ini dijadikan sebagai pusat rekreasi, taman wisata, resor tropis, cagar alam dan pusat budaya yang digabung jadi satu. Se-lain itu, ada Pukau Kusu yang memiliki legenda seekor kura-kura laut raksasa menyelamatkan nyawa dua pelaut dari kapal yang karam, seorang Melayu dan seorang China. Sebagai wujud rasa terima kasih, kedua orang itu membangun sebuah kuil China, sebuah tempat pemujaan Melayu dan sebuah patung kura-kura raksasa.
Selain itu, ada juga pulau Lazarus Island & Sister Island, yakni dua pulau kecil di Selatan Singapura. Pulau ini sering dilintasi dan dilihat warga Batam yang mau ke Singapura melalui Harbour Front. Ada Pulau Ubin di pantai timur laut Singapura, pulau lepas pantai ini sedang dikembangkan menjadi sebuah cagar alam.
Pulau St John’s Island yang dipromosikan kepada wisatawan, dahulu me-rupakan lokasi penjara, pulau berbukit ini telah berubah menjadi pusat liburan akhir pekan, dengan laguna untuk berenang, pantai, lapangan piknik, rute trek-king dan lapangan sepakbola. Singapura memang cerdik memanfaatkan segala potensi pulau-pulaunya dijual kepada wisatawan.
Pulau Batam juga memiliki ratusan pulau. Sejak disambung enam ke jem-batan ke Rempang dan Galang, selain lebih luas dari Singapura, juga memiliki panorama alam yang luar biasa. Namun, kita belum bisa memanfaatkan pulau-pulau itu menjadi daerah tujuan wisata alam yang memesona. Batam memang harus belajar banyak pada Singapura.
Cukup? Oh, belum. Selain memiliki berbagai event kelas dunia, program bisnis dan wisata terpadu, Singapura tidak melupakan Batam. Meski digarap ti-dak terlalu serius, wisata ke Batam (mungkin bagi wisatawan yang ingin melihat hinterland-nya Singapura) juga dipromosikan. Malah, mereka juga menggarap warga Indonesia melalui Pulau Batam.
Begitu pesta belanja atau Singapore Great Sale usai, warga Batam juga digarap melalui program free crossing yang dilakukan Singapore Tourist Board (STB).’’Liburan ke Singapura lewat Batam. Bisa ajak sekampung. Begitu bunyi iklan di Harian Pagi Batam Pos. Selain mendapatkan tiket ferry Batam-Singa-pura-Batam secara gratis, juga mendapat voucher belanja gratis, tiket penerba-ngan domestik bebas biaya ini-itu dan bebas fiskal. Program ini promosi Singa-pura bagi orang Batam yang berkunjung ke sana.
Kenapa Singapura memilih program free crossing ini lewat Batam? “Ba-tam merupakan salah satu kota bisnis di Indonesia. Banyak maskapai pener-bangan domestik yang memiliki rute ke Batam dari kota-kota lain di Indonesia . Artinya, kemudahan bagi warga Indonesia yang hendak ke Singapura lewat Batam,” ujar Raymond Lim Khe Keong, salah seorang Direktur STB untuk kawa-san Asia Timur dan Indonesia.
Melalui program liburan ke Singapura lewat Batam ini, selain biaya lebih murah, bisa juga dengan mengunjungi beberapa daerah wisa-ta di Indonesia, lalu menyeberang ke Singapura lewat Batam, yang bertetangga dengan Singa-pura. Program yang ditawarkan STB ini, dilakukan di 10 kota di Indonesia, yakni Batam, Bandung, Palem-bang, Pekanbaru, Jambi, Pontianak, Jakarta, Surabaya, Semarang dan Yogyakarta. Singapura juga menyediakan voucher 1.000 dolar Singapura untuk tiga pemenang. Program ini ternyata mendapat respon tinggi. Ribuan orang Indonesia, menyeberang ke Singapura lewat Batam. Entah kapan, Batam bisa mengambil keuntungan dari bisnis pariwisata Singapura.
